Ramadhan, Saatnya Bercermin Diri

 


Selamat pagi sobat,

Ramadhan kembali datang menyapa kita sebagai umat muslim. Ramadhan hadir bukan sekadar pergantian bulan dalam hitungan kalender Hijriyah, melainkan tamu agung yang membawa keberkahan, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. 

Setiap kali Ramadhan mendekat, hati seolah diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, untuk bertanya dengan jujur, sudah sejauh mana langkah kita mendekat kepada Allah Subhannahu Wa Ta'ala ?

Saat puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga namun Ramadhan adalah perjalanan batin. Sebuah madrasah kehidupan yang mendidik kesabaran, melatih keikhlasan, serta menumbuhkan empati kepada sesama.

Sering kali kita sibuk menilai orang lain, namun jarang bercermin pada diri sendiri. Untuk itulah Ramadhan hadir sebagai cermin besar yang memantulkan siapa diri kita sebenarnya. 

Ketika lapar dan haus terasa, kita belajar bahwa tubuh ini rapuh. Ketika emosi memuncak, kita diuji untuk menahannya. Di situlah kita menyadari, betapa selama ini kita mungkin terlalu mudah tersulut amarah, terlalu ringan melontarkan kata-kata yang melukai hati orang lainm.

Puasa Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan bukan pada seberapa keras kita berbicara, melainkan pada seberapa mampu kita mengendalikan diri.

Hati sering kali dipenuhi debu kesombongan, iri, dendam, dan prasangka. Tanpa kita sadari, ia mengeras oleh luka-luka masa lalu dan kekecewaan yang tak kunjung selesai. Oleh karena itu Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk membersihkannya.

Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan. Melepaskan bukan berarti kalah, tetapi memilih damai. Bukankah salah satu tujuan puasa di bulan Ramadhan ini adalah agar kita menjadi pribadi yang bertakwa ? Dan takwa tidak mungkin tumbuh di hati yang penuh kebencian.

Mari memasuki Ramadhan dengan hati yang ringan. Jika ada salah, akui. Jika ada khilaf, perbaiki. Jika ada yang tersakiti, dekati dan mintalah maaf. Jangan biarkan ketika Ramadhan berlalu tanpa perubahan berarti dalam diri kita.

Dalam kesibukan dunia, sering kali doa menjadi yang terakhir kita lakukan. Salat terasa terburu-buru, zikir terlewatkan, dan Al-Qur’an tersimpan rapi tanpa dibaca. Di saat Ramadhan mengundang kita untuk kembali memperbaiki hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta, Allah Subhannahu Wa Ta'ala.

Malam-malam Ramadhan memiliki keheningan yang berbeda. Ada kedamaian dalam sujud panjang, ada harapan dalam doa yang lirih. Air mata yang jatuh di sepertiga malam bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kerinduan seorang hamba kepada Allah Subhannahu Wa Ta'ala..

Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi menghadirkan hati dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Ketika kita merasakan lapar, kita diingatkan pada mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Ramadhan mendidik kita untuk tidak hidup hanya bagi diri sendiri. Zakat, infak, dan sodakoh bukan sekadar kewajiban, tetapi wujud nyata kepedulian.

Senyum yang kita beri, makanan yang kita bagikan, atau sekadar perhatian kepada yang kesepian, semua menjadi amal yang bernilai. 

Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir ketika kita mampu membahagiakan orang lain.

Setiap Ramadhan yang datang adalah pengingat bahwa usia kita berkurang. Mungkin tahun lalu kita masih lengkap bersama orang-orang tercinta. Tahun ini, mungkin ada yang telah lebih dulu berpulang. Atau mungkin diri kita sendiri yang tak tahu apakah akan bertemu Ramadhan berikutnya ? 

Karena itu, jangan sia-siakan bulan Ramadhan ini. Jangan hanya sibuk pada hidangan berbuka dan persiapan lebaran, tetapi lupa memperkaya jiwa. 

Jangan hanya memperindah rumah, tetapi lupa memperindah hati.

Ramadhan adalah kesempatan. Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Renungan terbesar memasuki Ramadhan adalah tekad untuk berubah. Bukan perubahan yang besar dan instan, tetapi langkah kecil yang konsisten. Jika sebelumnya jarang membaca Al-Qur’an, mulai dengan beberapa ayat setiap hari. Jika mudah marah, belajar diam sejenak sebelum berbicara. Jika lalai dalam salat, perbaiki perlahan.

Biarlah Ramadhan menjadi titik awal perjalanan baru. Bukan hanya bulan yang ramai di awal lalu redup di akhir, tetapi bulan yang meninggalkan jejak kebaikan dalam sebelas bulan berikutnya.

Memasuki Ramadhan adalah memasuki ruang suci dalam kehidupan kita. Ruang untuk menata ulang niat, memperbaiki langkah, dan menguatkan iman. 

Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang berpuasa, tetapi menjadi jiwa yang benar-benar belajar dari puasa.

Semoga Ramadhan kali ini membawa kita lebih dekat kepada ampunan, lebih lapang dalam memaafkan, dan lebih tulus dalam mencintai kebaikan.

Selamat menyambut Ramadhan. Semoga hati kita siap, dan jiwa kita bersih untuk menjalaninya.

Insya Allah ..

Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang ..

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat .

Salam Damai ..


NH

Depok, 18 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Minggu Ke-3

Tugas Minggu Ke-2

Tugas Minggu Ke-4