Pentingnya Menjaga Lisan
Selamat pagi sobat,
Ada pepatah lama yang mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Ungkapan ini sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam dalam arti apa yang keluar dari lisan kita mencerminkan siapa diri kita sesungguhnya.
Harga diri seseorang merupakan martabat, kehormatan dan kualitas pribadinya yang sering kali tampak jelas dari cara ia berbicara.
Lisan atau ucapan bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cermin dari pikiran, isi hati, dan kedewasaan jiwa.
Seseorang yang memiliki harga diri yang baik akan berhati-hati dalam bertutur kata. Ia tidak mudah merendahkan orang lain, tidak gemar menyebar kebencian, dan tidak menjadikan kata-kata sebagai senjata untuk melukai atau menjatuhkan orang lain.
Ketika seseorang terbiasa berkata jujur, santun, dan penuh empati, di situlah terlihat kematangan batinnya. Ia sadar bahwa setiap kata memiliki dampak.
Kata-kata dapat menguatkan, tetapi juga dapat meruntuhkan. Orang yang menghargai dirinya sendiri tidak akan merusak martabatnya dengan ucapan yang kasar, fitnah, atau kebohongan.
Sebaliknya, mereka yang mudah mencaci maki atau menyebarkan gosip tanpa kendali, sesungguhnya sedang memperlihatkan kualitas harga diri yang rapuh. Bukan orang lain yang menjadi kecil karena dihina, melainkan dirinya sendiri yang sedang menurunkan nilainya.
Dalam banyak ajaran kebijaksanaan, kita diajarkan untuk berkata baik atau memilih diam. Prinsip ini sederhana, tetapi memerlukan kedewasaan. Diam bukan berarti lemah. Justru dalam diam yang terjaga, ada kekuatan pengendalian diri.
Seseorang yang mampu menahan lidahnya dari kata-kata sia-sia sesungguhnya sedang menjaga kehormatannya.
Harga diri tidak ditentukan oleh jabatan, harta atau popularitas. Banyak orang berpendidikan tinggi namun lisannya menyakiti. Banyak pula yang sederhana, tetapi ucapannya menyejukkan hati. Di situlah letak nilai sejati manusia yakni pada kemampuannya mengelola kata.
Ucapan yang santun mampu membangun kepercayaan. Dalam keluarga, kata-kata lembut mempererat kasih. Dalam pertemanan, tutur kata yang baik menumbuhkan rasa hormat. Dalam pekerjaan, komunikasi yang bijak menciptakan suasana kerja yang saling menghargai.
Orang yang menjaga lisannya sesungguhnya sedang menjaga dirinya sendiri. Ia paham bahwa reputasi dibangun perlahan, tetapi bisa runtuh hanya karena satu kalimat yang salah.
Oleh karena itu, ia menimbang sebelum berbicara, memikirkan dampak sebelum berucap.
Memang menjaga lisan bukan perkara mudah. Emosi, ego, dan situasi sering kali memancing kita untuk berkata tanpa berpikir panjang. Namun di situlah latihan harga diri dimulai.
Mengendalikan diri saat marah, memilih kata yang tepat saat berbeda pendapat, serta meminta maaf ketika salah berbicara adalah tanda kebesaran jiwa.
Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita melalui kata-kata. Apakah kita ingin dikenal sebagai pribadi yang menenangkan atau sebaliknya. Pilihan itu ada pada lidah kita.
Pada akhirnya, harga diri bukan sesuatu yang diumumkan, melainkan ditunjukkan. Dan salah satu cara paling nyata untuk menunjukkannya adalah melalui lisan atau ucapan. Karena dari kata-kata, orang lain akan mengenal hati kita.
Semoga bermanfaat ..
Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang ..
Selamat beraktivitas ..
Salam sehat .
Salam Damai ..
NH
Depok, 24 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar