Puisi

 


Kupahat Langit Dengan Kerinduan

Senja itu aku berdiri di atas bukit

Seraya menatap langit yang teramat luas

Dengan membawa setumpuk rindu

Yang tak pernah usai

Ingin kupahat langit dengan kerinduan

Dalam hening dan sunyi

Kupahat dengan palu kesabaran yang tulus dan ikhlas

Saat malam tiba

kerlip bintang menjadi serpihan doa doa

Yang berasal dari dalam relung dadaku

Rindu ini bukan sekadar jarak

Ia adalah waktu yang menebal
di antara detak dan napas

Ia adalah langkah-langkah yang tak pernah sampai

Namun tak pernah berhenti berjalan

Ingin kupahat langit dengan kerinduan

Hingga hujan perlahan turun
membasahi relung hatiku

Barangkali itulah caramu menjawab 

hadir sebagai titik-titik hujan
yang menyentuh tanpa terlihat

Jika suatu hari nanti 

Fajar menyinysing di ufuk timur

Dan cahayanya menyusup
ke sela-sela kerinduan


Saat itu aku ingin menemukanmu
di sana

Pada warna jingga
yang kita sebut sebagai masa depan

Hingga saat itu tiba

Biarlah aku terus memahat langit dengan kerinduan

Meski tak pernah benar-benar usai


NH

Depok, 23 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Minggu Ke-3

Tugas Minggu Ke-2

Tugas Minggu Ke-4