Jangan Pernah Menyerah Ketika Pengelihatan Makin Berkurang

 


Selamat pagi sobat,  

Saya sanga memahani bahwa hidup tidaklah selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada kalanya seseorang harus menghadapi ujian yang berat, termasuk ketika penglihatan mulai berkurang atau bahkan mulai hilang secara perlahan. 

Inilah yang kini saya alami. Akibat penyakit glukoma (tekanan bola mata tinggi) pada mata sayaembuat mata kanan saya sudah tidak bisa melihat lagi namun mata kiri saya masih bisa melihat meski sudah buram walaupun sudah menggunakan kaca mata minus. Jadilah saya sebagai manusia bermata sabu-sabu, satu buta dan satu buram.

Untuk menjaga mata kiri agar bisa terus melihat meski dalam kondisi sekitar 60 % saja, saya harus menggunakan obat tetes mata setiap hari selama seumur hidup agar tekanan bola mata tetap dalam keadaan normal. 

Bagi saya pribadi, mata bukan hanya alat untuk melihat dunia, tetapi juga menjadi jendela untuk menikmati keindahan hidup. 

Ketika penglihatan saya mulai terganggu tentu awalnya ada rasa sedih, kecewa, bahkan berkurangnya rasa percaya diri dan putus asa.

Namun kemudian, saya menyadari bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya. Banyak orang hebat yang mampu membuktikan bahwa kekurangan fisik tidak pernah mampu membatasi kekuatan hati dan pikiran. Mereka tetap berkarya, tetap berjuang, dan tetap memberi manfaat bagi orang lain. 

Sebab yang paling penting bukanlah seberapa sempurna tubuh seseorang, tetapi seberapa besar semangatnya untuk bertahan dan melangkah ke depan.

Sering kali manusia merasa lemah karena terlalu fokus pada apa yang hilang, hingga lupa mensyukuri apa yang masih dimiliki. Saya meyakini bahwa meski penglihatan terbatas, masih ada hati yang mampu merasakan kasih sayang, masih ada telinga yang dapat mendengar nasihat dan doa, masih ada pikiran yang mampu melahirkan ide, gagasan dan harapan. Bahkan dalam gelap sekalipun, harapan itu tidak pernah benar-benar padam.

Keterbatasan pengelihatan juga mengajarkan saya untuk lebih sabar dan lebih dekat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Saat mata tak lagi mampu melihat dengan jelas, hati justru belajar melihat kehidupan dengan lebih bijak. 

Saya belajar memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang kesempurnaan fisik, tetapi tentang keteguhan menerima takdir dan keberanian menjalani hari demi hari.

Saya berusaha menghilangkan rasa  rendah diri dengan kekurangan yang saya miliki. Saya sadar bahwa setiap manusia memiliki ujian masing-masing. Ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan kehilangan, dan ada pula yang diuji dengan kesehatan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup agar manusia belajar menjadi pribadi yang kuat dan rendah hati.

Dalam keterbatasan penglihatan, saya percaya bahwa hidup masih memiliki banyak keindahan dan bahagia karena keindahan dan bahagia itu mungkin tidak selalu tampak oleh mata, tetapi dapat dirasakan oleh hati. 

Senyuman, perhatian dan doa dari orang-orang tercinta merupakan penyemangat untuk terus berkarya dan menjadi anugerah yang sangat berharga nagi diri saya.

Oleh karena itu saya tak akan pernah menyerah hanya karena keadaan tidak lagi sempurna. Selama napas masih berhembus dan harapan masih selalu ada maka saya akan terus melangkah meski perlahan. 

Saya juga akan terus berkarya sebagai seorang penulis buku meski dalam keterbatasan membaca dan melihat. Saya percaya bahwa setiap kesulitan pasti menyimpan hikmah yang akan menguatkan jiwa.

Insya Allah ..

Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang ..

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat .

Salam Damai ..


NH

Depok, 31 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Minggu Ke-3

Tugas Minggu Ke-2

Tugas Minggu Ke-4