Ojo Mburu Seneng

 


Selamat pagi sobat,  

Ada satu pitutur (nasehat) para leluhir dari tanah Jawa yang begitu sederhana, tetapi mempunyai mana seluas samudra : "Ojo mburu seneng".

Jangan selalu mengejar kesenangan.

Kalimat tersebut di atas tidak mengajarkan seseorang untuk menolak kebahagiaan. Bukan pula melarang seseorang menikmati hasil jerih payahnya. Namun pitutur itu justru mengingatkan agar kita tidak menjadikan kesenangan sebagai tujuan utama kehidupan. Sebab, apa yang menyenangkan hari ini belum tentu menenangkan esok hari.

Sejak kecil, kita diajarkan untuk bercita-cita tinggi. Belajarlah yang rajin agar sukses. Bekerjalah dengan tekun agar hidup berkecukupan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Yang menjadi persoalan adalah ketika ukuran sukses hanya berhenti pada harta, jabatan, dan pujian manusia.

Sesungguhnya manusia modern hidup di tengah dunia yang gemar memamerkan kebahagiaan. Setiap hari mata kita disuguhi potret kehidupan yang tampak sempurna. Rumah megah, kendaraan mewah, perjalanan ke berbagai negeri, hingga pencapaian yang dibagikan tanpa henti. 

Tanpa disadari, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain.

Padahal, apa yang tampak di luar sering kali tidak sama dengan yang dirasakan di dalam. Ada senyum yang menutupi luka. Ada tawa yang menyembunyikan air mata. Ada kemewahan yang dibangun di atas kegelisahan.

Ironisnya, semakin keras seseorang mengejar kesenangan, semakin jauh pula ketenangan berlari dari dirinya.

Kesenangan ibarat embun yang berkilau diterpa matahari pagi. Indah dipandang, tetapi perlahan menghilang ketika siang datang. Sebaliknya, ketentraman adalah ibarat mata air yang terus mengalir, memberi kesejukan dalam segala musim.

Karena itu, orang bijak lebih memilih merawat hati daripada memuaskan gengsi. Mereka tidak sibuk membuktikan dirinya hebat di hadapan dunia. Mereka lebih sibuk memastikan bahwa setiap langkahnya tidak melukai sesama, setiap ucapannya membawa kesejukan, dan setiap rezekinya diperoleh dengan cara yang halal.

Betapa banyak orang yang memiliki segalanya, tetapi kehilangan rasa syukur. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup sederhana, namun wajahnya selalu memancarkan keteduhan. Rahasianya bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada luasnya hati dalam menerima karunia Tuhan.

Bersyukur adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri. Ikhlas adalah kemewahan yang tidak dapat dibeli. Dan ketenangan adalah istana yang dibangun dari kesabaran.

Usia juga mengajarkan kepada kita pada sebuah kenyataan. Semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mampu menikmati perjalanan tanpa kehilangan nilai-nilai kehidupan. Jabatan akan berganti. Harta akan berpindah tangan. Popularitas akan memudar. Namun, nama baik, ketulusan, dan amal kebajikan akan tetap dikenang.

Oleh karena itu, jangan iri kepada mereka yang tampak lebih beruntung. Setiap orang sedang memikul ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelimpahan. Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka menjalaninya.

Kebahagiaan sejati bukan ketika semua keinginan terpenuhi. Kebahagiaan sejati adalah ketika hati mampu berkata, "Apa yang Tuhan berikan hari ini sudah lebih dari cukup."

Di situlah manusia belajar berdamai dengan hidup. Tidak lagi sibuk mengejar apa yang belum tentu menjadi miliknya, tetapi merawat apa yang telah dipercayakan kepadanya.

Maka, jika suatu hari langkah kita terasa berat, ingatlah kembali pada pitutur para leluhur :

Ojo mburu seneng ..

Kejarlah hidup yang penuh makna. Kejarlah hati yang damai. Kejarlah keberkahan dalam setiap ikhtiar. Sebab ketika hati telah tenteram, kesenangan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar. Ia akan datang sebagai buah dari hidup yang dijalani dengan jujur, rendah hati, penuh rasa syukur, dan selalu bersandar kepada Tuhan.

Sebab pada akhirnya, bukan seberapa meriah hidup kita yang akan dikenang, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan bagi sesama. Itulah kebahagiaan yang tidak lekang oleh waktu, dan itulah makna terdalam dari pitutur sederhana:

Ojo mburu seneng ..

Semoga bermanfaat ..

Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang ..

Selamat beraktivitas ..

Salam sehat ..

Salam Damai ..


NH

Depok, 6 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Minggu Ke-3

Tugas Minggu Ke-2

Tugas Minggu Ke-4